Menulis di era AI
Di era kecerdasan buatan, kemampuan menulis yang relevan dengan dunia nyata menjadi semakin krusial bagi para siswa, karena penilaian manusia harus tetap unggul dibandingkan alat-alat AI. Meskipun Malaysia mencatat pencapaian penting dalam SEA-PLM 2024, para ahli menegaskan bahwa kemampuan menulis siswa harus dipahami jauh melampaui sekadar hasil ujian.
Dr Norfaizal Jamain dari Universitas Malaya menyatakan bahwa menulis harus direstrukturisasi sebagai keterampilan inti untuk pengembangan pribadi, bukan sekadar alat lulus ujian. Ia mengkritik sistem pendidikan yang terlalu mereduksi menulis menjadi penilaian semata, sehingga siswa tidak benar-benar melewati proses perencanaan, penyusunan, dan evaluasi ide. Data SEA-PLM mengungkap bahwa hanya sekitar 21% siswa Malaysia mencapai tingkat tertinggi, sementara mayoritas masih berada di level sedang dan rendah. Kelemahan utama yang diidentifikasi adalah penekanan berlebihan pada tata bahasa dan format dibanding pengembangan ide, ditambah tantangan transfer bahasa yang belum ditangani secara sistematis di sekolah-sekolah berbahasa daerah.
Prof. Datuk Dr. Noraini Idris menambahkan bahwa kesenjangan ini terlihat nyata di bidang STEM, di mana lulusan Malaysia yang kompeten secara teknis sering kesulitan menyusun gagasan kompleks menjadi argumen yang koheren dan persuasif. Menurutnya, tanpa kemampuan berkomunikasi yang baik, penemuan ilmiah yang brilian tidak akan mampu memengaruhi kebijakan atau meningkatkan kualitas hidup. Ia menegaskan bahwa kemunculan AI justru membuat keterampilan menulis manusia semakin penting, karena AI hanya mengambil alih pekerjaan rutin, sementara nilai manusia bergeser ke arah sintesis tingkat tinggi dan pengawasan etis. Oleh karena itu, profesional STEM tidak hanya harus bisa menggunakan AI, tetapi juga mampu mengarahkan dan mengevaluasi hasilnya secara kritis.
Norfaizal menekankan bahwa fokusnya bukan menolak AI, melainkan menggunakannya sebagai alat pendukung dalam proses menulis, bukan pengganti berpikir. Pengajaran menulis harus bergeser dari latihan berbasis struktur menuju pendekatan yang berakar pada diskusi, argumen, dan refleksi, agar pemikiran kritis benar-benar terbentuk. Prof. Dr. Sivabala Naidu dari Melta menambahkan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang minim kecemasan, mendorong siswa untuk berani mengambil risiko dan belajar dari kesalahan melalui latihan lisan, penulisan kolaboratif, dan interaksi sesama siswa. Untuk mengatasi kesenjangan antarjenis sekolah, Norfaizal menyarankan pendekatan pengajaran yang disesuaikan dengan tingkat kemahiran bahasa siswa, didukung pelatihan guru yang berfokus pada pedagogi responsif bahasa, bukan sekadar penyampaian konten.